15 menit kemudian, setelah mandi koboy ala kadarnya, ternyata kami sudah ditunggu bapak Project Officer, Sugi, di depan stasiun, lengkap dengan troopernya, hehehe. Makin berasa 5 cm banget deh. Dari stasiun kami menuju ke guest house Srikandi di jalan Panderman dan sudah ditunggu anggota tim yang lain. Yah, nasib rombongan KA ekonomi, gara-gara kereta yang terlambat, yang harusnya kita sampai duluan malah jadi paling belakangan. Sampai di Guest House, ngopi sebentar, packing barang di Jip eh Trooper deng, hehehe, dan lanjut menuju Ranu Pani.
![]() |
| Foto-foto duluuu.... |
Dalam perjalanan kami mampir sebentar di pasar Tumpang untuk belanja sayur-sayuran, berhubung kami punya rencana masak ketupat sayur lengkap dengan sayur lodeh dan rendang di Ranu Kumbolo. Heran ya? bisa-bisanya masak ketupat sayur, hehehe. Orang naik gunung kan biasanya makan mie instant. Tapi kami memang penganut aliran "kalau masih bisa makan enak, ngapain makan masakan instant?". Buat kami, mie instant itu makanan survival, hehehe.
Dari Tumpang, trooper melaju ke Ranu Pani. Sempat Makan siang sebentar di Gubug Klakah dan foto-foto di pertigaan Bromo. Akhirnya jam lima sore kami sampai di guest house Pak Tasrip tempat kami menginap malam itu. Di losmen ini selain rombongan kami, di losmen ini juga menginap rombongan dari Rusia. Dari ngobrol-ngobrol sama mereka, ternyata mereka baru dari Rinjani, dan setelah Semeru mereka rencana lanjut ke Raja Ampat, Total satu bulan mereka liburan di Indonesia. Jadi pengen ngebales keliling Rusia tapi langsung sedih inget kurs rupiah....
Pukul 5 pagi kami bangun dan langsung siap-siap. Pukul 6 kami bergerak menuju pos Taman Nasional. Berhubung pos baru dibuka jam 8, akhirnya kami memutuskan sebagian langsung saja berangkat, sementara 2 orang akan menunggu pos dibuka untuk pendaftaran dan mengurus perijinan. Kita janjian bakal ketemu di pos satu, bareng dengan tim porter juga. Dalam perjalanan ini, kami didampingi 7 orang porter. Hebat ya, pesertanya 13 porternya 7, hahahaha.... Namanya juga mau party, jadi bawaannya buanyak, hehehe.
| Gerbang Jalur Pendakian |
Rencananya hari ini kami akan makan siang di Ranu kumbolo kemudian lanjut menuju Kalimati. Dari Ranu Pani sampai Ranu Kumbolo menempuh jarak kurang lebih 10.5 Kilometer dengan medan yang relatif datar karena jalurnya menelusuri lereng punggungan. Kata Ranu sendiri berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya "Danau". Jadi Ranu Pani artinya "Danau Pani" sedangkan Ranu Kumbolo Artinya "Danau Kumbolo". Dan memang di kedua tempat itu terdapat telaga atau danau yang cukup luas. Danau Pani juga menjadi sumber air bagi pertanian yang ada di sekitarnya.
Untuk menuju Ranu Kumbolo kami akan melewati kurang lebih 4 pos dimana di setiap pos sudah didirikan semacam saung untuk beristirahat. Pos 1 kami capai setelah berjalan kurang lebih dua jam. Maklum, foto-foto terus, hehehe. Sampai di pos 1, kami langsung disambut pedagang semangka, hehehe. Lumayan, buat bikin seger setelah jalan kaki berjam-jam. Dan ternyata kami sudah dibalap rombongan porter. Ternyata mereka punya jalur sendiri yang lebih dekat, emang ya, akamsi (anak kampung sini).....
| Ranu Kumbolo dilihat dari pos 4 |
Pukul 1 siang akhirnya kami sampai di Ranu Kumbolo. Naga-naga di perut sudah mulai protes nih, makan siaang. Mungkin ini salah satu tempat makan siang paling enak di dunia. Walaupun menunya sederhana, tapi viewnya itu lho, Juara... hehehe.
Pukul 2 siang, setelah beres-beres sebentar kami melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Jarak yang masih harus kami tempuh untuk mencapai camp di Kalimati kurang lebih 7,5 Kilometer. Tanpa pemanasan di jalur yang landai kami langsung disambut tanjakan cinta yang ngetop itu...
| Tanjakan Cinta..... |
Sedikit mengenai tanjakan cinta, disebut demikian karena letaknya tepat diantara dua bukit yang kalau dilihat dari jauh menyerupai tanda love alias cinta. Satu lagi, mitosnya, kalau selama nanjak kita mikirin orang yang kita suka dan tidak menengok kebelakang dari bawah sampai ke puncaknya, kita akan dapetin tuh orang yang kita suka. Jadi dengan semangat sumpah pemuda (halah..), akhirnya saya sukses sampai ke puncak tanjakan cinta tanpa menengok ke belakang sambil mikirin.... RAISA, hahahaha.... Pokoknya kalau gue nggak dapetin Raisa berarti mitos itu palsu...!!!
Lepas tanjakan cinta, langsung dihadapkan dengan Oro-oro ombo. Padang luas ini pada musim hujan akan dihiasi hamparan warna ungu dari bunga-bunga yang tumbuh di sana. Sayangnya karena kami mendaki di akhir kemarau panjang, padang ini sedang kering dan tampak sisa-sisa kebakaran yang sempat terjadi beberapa bulan sebelumnya.
| Oro-oro Ombo |
| Nyantai di Cemoro Kandang |
Di ujung Oro-oro Ombo, kami disambut barisan pohon cemara. Inilah Cemoro Kandang. Kami menyempatkan beristirahat sejenak disini. Selepas Tanjakan Cinta, jalan setapak relatif datar bahkan cenderung menurun. Tapi jalur dari Cemoro Kandang menuju Jambangan sejauh kurang lebih 3 Kilometer kami mulai menghadapi banyak tanjakan. Meskipun tidak terlalu curam, lumayan menghabiskan nafas juga. Sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan pendaki-pendaki yang baru turun dari Kalimati. Saling senyum dan menyapa, serta saling memberi semangat, inilah salah satu yang membuat saya selalu kangen untuk naik gunung lagi.
Sampai di Jambangan, puncak Mahameru terlihat sedikit diselubungi kabut. Wihh, masih tinggi banget.... Langsung terbayang bakalan berat sepertinya perjuangan ke puncak. Salah satu teman sempat menyeletuk "kok kayak lihat gunung Salak dari Bogor ya? Jauh banget", hahaha... Biar nggak bikin jatuh mental, saya nggak mau lama-lama memandang ke puncak. Urusan besok gimana nanti lah, hehehe.
Dari Jambangan menuju Kalimati jalan setapak relatif menurun (bikin makin ngedrop, kita kan mau naik....hihihihi). Perjalanannya berselang-seling antara hutan dan padang rumput. Rumpun-rumpun Bunga Eidelweiss Jawa mulai menyambut kami. Pukul 5 Sore akhirnya kami sampai di Kalimati, Langsung buka tenda karena hawa mulai dingin dan mulai mempersiapkan dapur, lapar cuy...
| Puncak Mahameru dilihat dari Kalimati |
Mudah-mudahan masih sempat mimpiin Raisa... hehehe
"There was never a night or a problem that could defeat sunrise or hope."
~Bernard Williams~

No comments:
Post a Comment