Thursday, October 23, 2014

Antara Ultralight, Extraweight, dan Overweight (15 years of friendship - part 1)

Merencanakan sebuah perjalanan, apalagi kalau perjalanan itu berupa liburan, buat saya adalah salah satu bagian yang paling menyenangkan dari perjalanan itu sendiri. Mulai dari mau pergi kemana, naik apa, nginap dimana, makan apa, sampai oleh-oleh apa yang akan dibeli, secara tidak sadar bisa bikin kita lebih bersemangat kerja. Yaaah, namanya juga mau liburan cuy, hihihi...



Apalagi perjalanan kali ini adalah perayaan 15 tahun pertemanan kami, makin heboh lah persiapannya. Menentukan tujuan saja kita sampai voting terbuka. Walaupun nggak sampai ada yang kehilangan palu atau walk out, akhirnya dari 2 opsi yang ada kami memilih Gunung Semeru sebagai tujuan reuni kali ini. Disepakatilah stasiun Malang sebagai lokasi meeting point.

Nggak terasa 15 tahun sudah berlalu sejak pertama kali kami kumpul di sekretariat Mapala UI sebagai caang (calon anggota). Orang-orang yang sebagian tidak saling kenal, yang disatukan oleh gairah petualangan yang sadar atau tidak sadar, ikut membentuk diri kami yang sekarang. Tahun-tahun penuh tawa, rapat-rapat PKI, berantem juga (kadang-kadaaaang...), kenakalan-kenakalan juga kenekatan-kenekatan yang nggak akan pernah bisa kami lupakan.



Rapat PKI beneraaaan....
Sumber : Film Pengkhianatan G30S/PKI
Okay, sebelum salah sangka dan mikir kita ini anak buah Opa Lenin, saya nyebut rapat PKI karena kalau rapat itu selalu lama (rekornya pernah semalam suntuk, hihihi), ada kopi, ada Dji Sam Soe persis adegan di film  G30S/PKI. Untung kita nggak saling memanggil dengan awalan "Kawan..", hahaha...






Persiapan perjalanan kali ini juga diwarnai rapat-rapat untuk membahas A sampai Z perjalanan yang akan dilakukan. Walaupun sekarang sudah "nggak terlalu PKI" karena udah tua kali yeee, Bedanya, kalau dulu, 15 tahun lalu kita rapat di Sekret dan sering nggak ada cemilannya, sekarang makanannya bisa sisa sampai dibawa pulang, hahaha.

Selain rapat, persiapan yang juga heboh adalah belanja alat kelengkapan pribadi. Berhubung sebagian sudah nggak aktif naik gunung lagi, banyak diantara kami yang perlangkapannya sudah menghilang entah kemana. Bahkan salah satu teman, diantara semua alat yang dia punya, yang tersisa hanya tempat telur.... Untunglah, setelah cek gudang, barang-barang pribadi saya masih banyak yang layak pakai, hehehe.

Gambar : www.karrimor.com



Ngomong-ngomong soal belanja, kelakuan kita-kita yang "anak gunung" kadang-kadang agak mirip sama madam-madam sosialite juga loh.  Cuma bedanyaaa, kita nggak akan ngelirik itu tas Louis Vuitton atau Hermes, tapi coba sodorin ransel Karrimor, The North Face atau Osprey, saya jamin mata langsung berbinar-binar, biarpun kadang hati kecut begitu lihat harganya....hahaha.



Back to topic, Pembahasan seru lain adalah soal makanan, karena pengaturan menu akan sangat menentukan.... Yup, bobot barang bawaan. Walaupun dari awal sudah berniat memakai jasa porter, tapi tetap saja, poter juga manusia, punya rasa punya hati.... (halah), kalau bawaan terlalu berat juga ujung-ujungnya nambah porter (it means duit lagi guys..) atau nambah beban bawaan. Mengingat tidak semua yang ikut masih rajin latihan fisik, ini menjadi masalah serius. 15 tahun lalu mungkin masih kuat bawa ransel 30kg di punggung. Tapi hari gini, dari awal saja sudah niat jalan cuma bawa tas pinggang, hehehe.

ransel dulu dan sekarang... hehehe
Bersyukur sekarang sudah banyak perlengkapan yang berlabel ultralight (walaupun di kantong jadi overweight, hehehe). Perlengkapan pribadi yang kemungkinan harus dibawa sendiri menjadi semakin ringan. Apalagi buat saya yang punya prinsip "biarpun nyasar sendirian harus tetap hidup nyaman", yang baru tenang kalau kompor, tenda, dan kawan-kawan dibawa sendiri, ini sangat membantu. Paling tidak, ukuran ransel yang saya bawa sudah jauh mengecil. Kalau dulu punya ransel ukuran 120 liter (mikir apa gue  dulu bisa beli tas segede gitu....), sekarang sudah bawa maksimal 40 liter (+ porter tentunya...hihihi).

Urusan itinerary, cari alat, menu, tempat nginep dan lain-lain bisa dibicarakan sampai hari keberangkatan. Mepet-mepet sedikit masih sempat laah. tapi yang sulit ditunda adalah perijinan dan tiket. FYI, berhubung tiket kereta api sudah dijual 3 bulan sebelum keberangkatan, seringkali sudah habis dari jauh-jauh hari, terutama kalau weekend atau dekat hari libur. Maka begitu sepakat soal tanggal, langsung hunting tiket, pesawat maupun kereta. yah kalau sial mau nggak mau harus naik bus. Berhubung saya masuk kelompok "ekonomi kreatif" langsunglah berburu tiket KA Matarmaja. kapan lagi bisa Jakarta-Malang PP dibawah 150 ribu, FYI tahun 2015 subsidinya dicabut looh... hehehe

Perijinan dan tiket beres, sambil cek lagi persiapan peralatan dan perlangkapan, lanjut kerja sambil berharap, semuga dapet cuaca bagus, dan gunungnya nggak batuk pas kita disana......

bersambung ke part 2.





No comments: