Wednesday, April 8, 2015

Ternyata Tulisan Tangan Lebih Efektif Dibanding Laptop

Di zaman serba digital seperti sekarang, pelan tapi pasti penggunaan kertas dan tinta semakin berkurang. Koran dan majalah perlahan tapi pasti bertransformasi menjadi media online, Dokumen-dokumen cetak perlahan berubah menjadi file-file komputer, dan yang pasti, anak muda sekarang sudah nggak punya pengalaman menulis surat cinta di kertas surat yang wangi (plus cap bibir, hihihi...) karena surat perlahan berganti dengan E-mail.

Satu hal yang juga berubah adalah, dulu bawaan wajib pelajar dan mahasiswa adalah buku catatan, terserah apakah itu berupa buku tulis, loos leaf, atau selembar HVS doang, yang pasti ketika guru atau dosen menerangkan di depan kelas, sebagian siswa dan mahasiswa tadi akan sibuk mencatat, sementara sebagian yang lain sibuk meminjamnya buat difotokopi nanti, menjelang ujian, hehehe... Kegiatan catat-mencatat tadi perlahan diganti ketik-mengetik, seiring makin banyaknya laptop yang digunakan di ruang kelas, yang pasti, sekarang tinggal minta kirim file, nggak perlu fotokopi lagi untuk pinjam catatan, hehehe...






Tapi apa benar penggunaan laptop yang lebih modern itu bisa menggantikan mencatat? Mana yang lebih efektif?

Ternyata, berdasarkan penelitian ini  cara old skool, yaitu mencatat dengan kertas dan pena lebih efektif dalam proses belajar dibandingkan mencatat dengan menekan keyboard pada laptop. Waduh... kok gitu, padahal laptop lebih praktis, dan yang pasti lebih gaya dooong dibanding buku tulis, hehehe.

Tetapi ternyata.....  ketika kita membuat catatan dengan tulisan tangan, setidaknya terjadi tiga proses dalam diri kita yaitu, active listening (ini saya bingung terjemahan  yang pas apa ya?) , mencoba menyaring informasi paling penting yang harus dicatat, dan kemudian proses menuliskan catatan itu sendiri. Ketiga proses tadi cenderung dilewatkan oleh pengguna laptop, yang dengan segala kepraktisannya (apalagi ditunjang kemampuan mengetik level dewa) cenderung bertindak robotik dengan mencatat semua yang diucapkan pengajar.

Bahkan ketika pengguna laptop diminta untuk "menulis dengan kata-kata mereka sendiri", hasilnya tidak jauh berbeda. Dalam menjawab pertanyaan yang bersifat faktual skor keduanya hampir sama, sedangkan dalam menjawab pertanyaan yang bersifat konseptual, pengguna tulisan tangan lebih baik daripada pengguna laptop.

Buat yang bingung apa itu pertanyaan faktual dan konseptual, ketika kamu belajar sejarah Indonesia, pertanyan yang bersifat faktual itu contohnya : "kapan terjadinya perang Diponegoro". Sedangkan contoh pertanyaan yang bersifat konseptual misalnya : "Coba bandingkan strategi VOC melawan Diponegoro dengan strategi VOC dalam perang Aceh".

Hal lain yang membuat penggunaan laptop untuk mencatat kalah efektif dibanding tulisan tangan adalah, ditengah era internet ini, pengguna laptop lebih sering teralihkan atau bahasa Prince William-nya distracted. Contoh? hayo, kamu yang lagi baca tulisan ini di jam kerja, terganggu nggak kerjaannya? Jangan makan gaji buta dengan baca blog ini di jam kerja ya, hehehe....

Pepatah cina mengatakan "Tinta yang paling buruk bertahan lebih lama daripada ingatan yang paling hebat".  Jadi, ketika belajar sesuatu, sedang rapat, ikut seminar, apapun itu yang berarti duduk dan mendengarkan, jangan lupa buat catatan, dan sekali lagi, ternyata cara old skool dengan pulpen dan kertas masih lebih efektif dibanting menarikan jari di atas keyboard.

Salam

No comments: